Rabu, 28 Sep 2022
  • Selamat Datang di Halaman Website SMAN 57 Jakarta

Pelajaran Serta Keteladanan Dari Para Pahlawan

Pelajaran Serta Keteladanan Dari Para Pahlawan

Di depan pintu gerbang, saya berdiri termangu.

Inilah rumah baruku, tempat tugas baruku sebagai Kepala Sekolah. Seperti biasa ada rasa asing memasuki lingkungan sekolah yang baru. Apalagi ini lintas wilayah. Selama ini saya puluhan tahun bertugas di wilayah Jakarta Pusat. Saya bertugas di SMAN 57 Kedoya di wilayah Jakarta Barat.

Angin kencang menyambut langkah pertamaku memasuki halaman sekolah SMAN 57 Jakarta. Dengan bismillah saya pun menginjakkan kaki di sekolah yang akan menjadi ladang pengabdian baruku. Terletak di dalam gang sempit menjadikan SMAN 57 kurang terdengar gaungnya. Dalam hati saya bertekad untuk mengubah image masyarakat terhadap institusi sekolah ini.

Hari ini saya cukup melihat sekolah baruku. Entah kenapa pesan para petinggi dan rekan-rekan sejawat selalu terngiang di telinga. Menjadi kepala sekolah harus kuat-kuat mental.

Pada saat upacara bendera hari Senin. Saya diperkenalkan sebagai kepala sekolah baru kepada para guru dan murid-murid. Kepala Sekolah lama bapak Nana Juhana, M.Pd mutasi ke sekolah SMAN 90 Jakarta Selatan.

Saya masih ingat betul. Selepas upacara guru-guru menyalamiku. Sementara murid-murid menyambutku dengan membentangkan spanduk bertuliskan Selamat Datang Ibu Setianingrum, M.Pd di SMAN 57 Jakarta dan meneriakkan yel-yel. Saya terharu dengan sambutan ini terutama murid-murid. Dalam hati saya berjanji akan membuat mereka bangga dengan sekolahnya ini.

Mengawali tugas sebagai kepala sekolah. Saya mengamati kebiasaan dan aturan serta norma yang berlaku selama ini di SMAN 57. Sambil membuka-buka arsip, saya mencoba memotret keadaan. Sedikit demi sedikit saya menemukan jawaban. Kenapa para kolega menyampaikan pesan untuk kuat mental menahkodai sekolah ini.

Sebagai ‘orang baru’ tentu saja saya harus beradaptasi. Menyesuaikan dengan kebiasaan-kebiasaan dan norma-norma yang berlaku di tempat tugas baruku. Beradaptasi bukan berarti mengikuti arus. Tidak. Saya tetap berpegang kepada prinsip hidup yang saya pegang teguh. Adaptasi ini saya lakukan untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi.

Menurut pengamatan saya sepintas lalu. Terkuak beberapa hal yang memerlukan pembenahan secepatnya. Pertama kurangnya koordinasi antar unsur pemangku kepentingan. Antar bagian masih bekerja sendiri-sendiri belum bersinergi. Kedua, beberapa individu sangat menikmati zona nyaman. Ketiga, ada perasaan kurang percaya diri para murid dalam bersaing dengan sekolah-sekolah lain.

Setelah memetakan permasalahan. Sebagai kepala sekolah yang berbasis pendidikan Bimbingan dan Konseling. Saya mencoba mendengarkan masukan, saran bahkan keluhan dari berbagai pihak : guru, siswa, tenaga kependidikan, orang tua dan instansi terkait. Dari sanalah saya mencoba mencari solusinya. Saya berkeyakinan sekolah ini mempunyai potensi untuk maju.

Selesai membaca situasi di lapangan. Saya mencoba melihat potensi yang dimiliki oleh SMAN 57. Baik dari sisi guru, murid, pegawai dan orang tua. Dari guru saya mendapatkan data semua berpendidikan minimal S1. Sementara untuk tenaga kependidikan kondisi realnya adalah status kepegawain, hanya ada 3 yang berstatus PNS, selebihnya lulusan SMA dan diploma.

Sebagian besar kondisi  sosial ekonomi para siswanya berpenghasilan menengah ke bawah. Tidak aneh kalau kepercayaan diri para siswanya perlu dibangkitkan. Sudah sewajarnya pula kalau hal tersebut mempengaruhi dukungan orang tua terhadap setiap usaha memajukan sekolah.

Maka langkah yang saya lakukan pertama kali adalah melakukan koordinasi dan kolaborasi. Menempatkan pendidik dan tenaga kependidikan pada tempatnya yang pas. Menggandeng orang tua dalam setiap kegiatan ke dalam wadah komite sekolah. Beruntungnya Komite Sekolah yang diketuai oleh bapak Wahyudi Kosasih mendukung sepenuhnya langkah-langkah dan kebijakan sekolah.

Beruntungnya pula saya mendapatkan dukungan penuh dari pengawas paket SMA JB 2, yaitu Bapak H. Suesti, M.Pd, beliau dengan penuh kesabaran mendengarkan keluh kesah saya. Dengan penuh kesabaran beliau selalu membangkitkan semangat saya. Mendorong untuk selalu terus bergerak. Tidak boleh patah semangat!

Pelan-pelan saya mencoba membangkitkan SMAN 57 dari tidur nyenyaknya. Mendorong setiap guru untuk mengembangkan diri. Tidak sekedar menggugurkan tugas pokoknya. Memotivasi untuk terus bertumbuh untuk meningkatkan kapasitas diri dengan mengikuti pelatihan-pelatihan dalam rangka membangun growth mindset.Terutama yang berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi.

Mendudukkan tenaga kependidikan dengan porsi yang seharusnya. Menjaga integritas dan sikap melayani kepada seluruh stake holder. Meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan tugas.

Kepada para murid saya mencoba menumbuhkan sikap peduli dan motivasi untuk berani bermimpi. Langkah yang saya ambil mengikut sertakan para murid ke even-even lomba. Tujuannya untuk menumbuhkan keberanian untuk tampil. Lupakan dulu mendapatkan gelar atau piala. Yang penting berani maju lomba dulu.

Saya meyakini bahwa sesungguhnya di antara murid-murid tersimpan potensi untuk dapat diasah, dikembangkan dan ditingkatkan prestasinya. Tentu perlu waktu. Setidaknya sudah beberapa murid menunjukkan bakat dan prestasi. Beberapa kelompok siswa menang dalam lomba penyusunan rancangan bisinis (bussines plan) dalam ajang Jakbee Kewirausahaan.

Dalam Festival Lomba Seni Siswa Nasional wilayah JB 2 pun mulai unjuk gigi. Untuk kategori seni kriya dan solo vocal sempat mendapatkan juara. Demikian pula halnya dengan lomba olahraga permainan tradisional. Sekali lagi tujuannya masih  berani tampil. Kalau menang berarti bonus.

Peran orang tua melalui Komite Sekolah sangat banyak membantu untuk memajukan sekolah. Beruntungnya ketua Komite Sekolah mempunyai pemikiran yang sama dalam memandang perwujudan visi dan misi sekolah.

Tentu saja upaya-upaya memajukan SMAN 57 ini tidak semulus apa yang saya rencanakan. Perlu kesabaran untuk mengubah paradigma, ada kendala dan rintangan yang menghadang. Pada dasarnya, tak seorang pun atau suatu kejadian manapun yang mampu secara signifikan untuk mengubah seseorang, kecuali dirinya sendiri. Seseorang atau sesuatu kejadian hanya menginspirasi kan saja untuk terjadinya perubahan, namun selama diri tidak benar-benar hendak berubah, semua itu tidak ada gunanya.

Hal terpenting dalam perubahan berawal dari merubah diri sendiri, tetapi mesti tahu dulu  sisi mana dari diri ini yang hendak di rubah, diperbaiki, di tata dan dikembangkan dengan penuh kesadaran. Yang abadi di dunia ini adalah  perubahan itu sendiri. Orang-orang yang tidak mau berubah, dia akan tergilas oleh perubahan itu sendiri. Karena sejatinya perubahan adalah sebuah keniscayaan. Harus diingat pula bahwasanya perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Orang lain hanya sebatas memberikan motivasi dan pencerahan.

Setiap manusia memiliki hak untuk mengijinkan dan menolak perubahan. Kita adalah magnet kebahagiaan karena kita mengijinkan bahagia. Setiap diri memiliki frekwensi dan frekwensi yang kita pancarkan akan ditangkap oleh frekwensi yang sama. Mental bertumbuh akan terus belajar dan siap meng up date diri. Kita perlu membangun  Growth Mindset . Growth Mindset adalah pola pikir yang menganggap bahwa segala sesuatu dapat dipelajari. Kemampuan dan kecerdasan dapat menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Sebagaimana yang pak Habibie katakana bahwa “Keberhasilan bukanlah milik orang pintar (IQ Tinggi). Keberhasilan adalah kepunyaan mereka yang senantiasa BERUSAHA.”

Kunci membangun Growth Mindset, yang pertama adalah senantiasa belajar pengetahuan dan menambah keterampilan baru. Kedua adalah terus merubah perilaku menjadi lebih baik, latihan terus-menerus. Dan yang ketiga adalah temukan cara untuk berlatih dengan cara yang unik, berbeda dengan sebelumnya. Orang-orang menjadi hebat karena memiliki konsep Growth Mindset, bukan hanya bakat yang dimiliki. Ciri-ciri seseorang yang miliki Growth Mindset, diantaranya : menyukai tantangan, menghadapi rintangan tidak mudah menyerah, melihat usaha sebagai jalan menjadi hebat, belajar dari kritik dan sukses orang lain sebagai pelajaran/inspirasi.

Berhasil tidaknya perubahan yang saya upayakan, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kemauan dan kemampuan kepada saya untuk senantiasa menjadi konektor kebaikan dan kebahagiaan kepada sesama khususnya keluarga besar SMAN 57 Jakarta. Dan semoga Allah senantiasa menjaga niat ikhlas saya dan hanya berharap Ridho Nya.

Itulah sekelumit kisah seni membangun sinergi. Ada saat-saat saya merasa lelah. Tapi pada saat yang sama banyak yang membangkitkan semangat saya kembali. Saya tetap pada keyakinan bahwa SMAN 57 bisa lebih baik lagi dan berprestasi. Memang butuh waktu dan kesabaran.

Waktu pulalah yang akan menjawabnya.

penulis
sman57

Tulisan Lainnya

PROGRAM JURUSAN MIPA
Oleh : sman57

PROGRAM JURUSAN MIPA

PROGRAM JURUSAN IPS
Oleh : sman57

PROGRAM JURUSAN IPS

KELUAR